IELTS vs TOEFL (IBT)

Banyak yang nanya soal perbedaan antara IELTS dan TOEFL (IBT) pada saya.
Kebetulan, saya sudah pernah merasakan kedua tesnya.
Jadi, saya akan sedikit menjabarkan tentang perbedaan kedua tes Bahasa Inggris ini.

Tapi, sebelum saya menjabarkan perbedaan kedua tes Bahasa Inggris ini, ada baiknya saya menjabarkan persamaannya terlebih dahulu.
Persamaan tes IELTS dan TOEFL (IBT):

1. Keduanya bisa digunakan untuk mendaftar sekolah ke luar negeri
Banyak orang yang masih mengira bahwa hasil tes IELTS hanya diterima di negara X, Y, Z sedangkan hasil tes TOEFL hanya diterima di negara A, B, C.
Dengan zaman semodern ini, hampir semua sekolah di luar negeri menerima hasil kedua tes, tanpa pandang bulu. Mereka sudah punya standar persamaan yang dapat mengkonversi nilai IELTS ke dalam rentang nilai TOEFL atau sebaliknya.

2. Keduanya sama-sama susah
Banyak orang Indonesia yang sering mengaku “bisa Bahasa Inggris-Inggris, tapi gak bisa Bahasa Inggris-Amerika” .
Hal ini adalah salah satu pernyataan yang paling bodoh di dunia.
Karena itulah, pertanyaan “tes manakah yang lebih susah?” adalah salah satu pertanyaan yang bodoh pula.
Sudah saya buktikan sendiri: tingkat kesulitan kedua tes sama.
Buktinya, ketika saya mengambil kedua tes tanpa berusaha belajar sama sekali dan kondisi fisik saat saya mengerjakan tes cenderung sama (sama-sama mengantuk, malas-malasan saat bekerja, dan sedang sehat walafiat), nilai TOEFL dan IELTS saya sama (atau mungkin lebih tepatnya: cenderung berada di rentang nilai yang sama, karena skala nilai yang digunakan berbeda)
Selain membuktikan kedua tes sama-sama susah, saya juga berhasil membuktikan bahasa jika seseorang pandai ber-Bahasa Inggris, tidak peduli Bahasa Inggris jenis apapun, orang tersebut akan dapat mengerti Bahasa Inggris, begitu pula sebaliknya.
(dengan kata lain: orang yang mengaku dapat ber-Bahasa Inggris jenis X tapi tidak dapat ber-Bahasa Inggris jenis Y sebenarnya tidak dapat ber-Bahasa Inggris dengan baik)

3. Keduanya sama-sama memiliki empat bagian tes: reading, listening, speaking, dan writing
Saya adalah salah seorang yang sungguh sangat berharap dihapuskannya bagian Reading di dalam kedua tes ini, karena bagian Reading biasanya membingungkan dan beberapa topiknya sangat membosankan sehingga membuat saya mengantuk pada saat tes.
Sayangnya, harapan saya itu tidak akan pernah mungkin dikabulkan.
Intinya, di dalam IELTS ataupun TOEFL (IBT), keempat bagian tes harus dilalui, suka ataupun tidak suka.

Kemudian, saya akan menjabarkan perbedaan antara tes IELTS dan tes TOEFL (IBT).
Perbedaan mendasar di kedua tes ini terletak pada cara kita mengerjakan tes.
Dalam melakukan tes IELTS, peserta ujian akan berhadapan dengan seorang penguji (pada bagian Speaking) dan dengan kertas dan pensil (pada bagian lainnya).
Selain itu, pada soal IELTS, selain dihadapkan pada soal-soal pilihan ganda, peserta ujian juga dituntut untuk berhadapan dengan soal isian (kecuali pada bagian Writing) .
Sedangkan dalam mengerjakan tes TOEFL (IBT), peserta ujian hanya akan dihadapkan dengan komputer. Pada tes TOEFL semua soal berbentuk pilihan ganda, kecuali bagian Writing.
TOEFL (IBT) juga cenderung lebih murah dibandingkan dengan IELTS, walaupun tetap tergantung dengan kurs dollar pada saat mendaftar tes.
Perbedaannya, TOEFL (IBT) menawarkan untuk mengirimkan hasil tes kepada 4 universitas pilihan peserta secara gratis. Sedangkan untuk IELTS, setiap salinan hasil tes yang mau dikirimkan akan dikenakan biaya tambahan.

Dibawah ini adalah perbedaan antara tes TOEFL (IBT) dan IELTS.
(alasan: saya lebih dulu melalui tes TOEFL (IBT) daripada tes IELTS)

1. Reading
Soal-soal di bagian Reading pada tes ini cenderung serupa dengan soal-soal Bahasa Inggris yang sering kita jumpai di bangku sekolah. Hal ini disebabkan oleh ujian Bahasa Inggris tingkat sekolah di Indonesia cenderung berkiblat kepada tes TOEFL.
Soal-soal pada bagian ini cenderung tidak aneh-aneh, misalnya:
“Apa inti dari paragraf pertama?”
“Disajikan sebuah kalimat baru, dimanakah sebaiknya kalimat tersebut diletakkan? di A, B, C, atau D?”
“Susunlah kalimat dibawah ini menjadi suatu paragraf yang baik.”

dan semacamnya.

2. Listening
Keuntungan terbesar dari tes bagian Listening ini adalah aksen khas Amerika Serikat.
Orang-orang Indonesia cenderung lebih terbiasa dengan Bahasa Inggris aksen Amerika Serikat karena seringnya kita bersentuhan dengan film, serial tv, maupun lagu-lagu yang memang kebanyakan berasal dari Amerika Serikat.
Di bagian Listening ini, pada dasarnya peserta ujian akan mendengarkan pembicaraan antara dua orang atau ceramah dalam satu kuliah. Setelah mendengar percakapan atau kuliah tersebut, peserta ujian kemudian diberikan pertanyaan yang harus dijawab.
Pada tes ini, intonasi pembicaraan juga cenderung lambat dan sangat mudah untuk dipahami.
Selain itu, karena soal bagian Listening ini juga berupa pilihan ganda, maka peserta ujian dapat dengan mudah menebak jawabannya dari 4 pilhan yang disediakan.

3. Speaking
Tes bagian Speaking dibagi menjadi dua soal utama.
Soal yang pertama: peserta ujian akan diperdengarkan suatu materi kuliah, kemudian akan diminta untuk menyimpulkan materi tersebut.
Soal yang kedua: peserta ujian akan diharuskan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang sifatnya cenderung personal, seperti pandangan si peserta mengenai hubungan sosial masyarakat atau hal-hal semacamnya.
Menurut saya: bagian Speaking adalah bagian kedua tergampang, setelah Listening.
Tapi bagi orang-orang yang tidak terbiasa berbicara dalam Bahasa Inggris, Speaking bisa jadi menyeramkan dan membuat tegang.
Rasa tegang tersebut bisa disebabkan oleh tekanan yang dirasakan peserta ujian karena merasa suara mereka direkam oleh komputer, tidak bisa diulang, dan harus berbicara dalam waktu yang cukup cepat (suara yang direkam hanya sekitar 2-5 menit untuk setiap soal).

4. Writing
Bagian Writing ini terbagi dalam dua pertanyaan.
Pertama: perserta ujian akan diberikan sebuah wacana, kemudian peserta ujian diminta merespon terhadap wacana tersebut.
Kedua: peserta ujian diberikan pertanyaan essay yang harus dijawab dalam bentuk sebuah karangan panjang.
Yang harus diingat adalah essay yang merupakan jawaban dari pertanyaan kedua nilainya lebih tinggi daripada pertanyaan pertama.
Bagian Writing ini menurut saya merupakan bagian yang gampang-gampang susah.
Untuk menjawab essay bagian kedua, saya merasa pengetahuan umum saya sangat kurang sehingga essay saya memiliki fondasi yang cukup lemah. Essay saya waktu itu cenderung tidak tersusun dengan rapi.
Jadi, untuk mempermudah pengerjaan bagian Writing ini, sebelum memutuskan untuk mengikuti tes, peserta ujian hendaknya banyak-banyak membaca buku atau berita Bahasa Inggris.

Saya lanjutkan dengan menjabarkan tes IELTS.

1. Listening
Bagian Listening pada tes IELTS berkemungkinan menjebak peserta ujian karena dalam percakapan yang diperdengarkan aksen Inggris sangat kentara. Bagi banyak orang, aksen orang Inggris ini sulit untuk dimengerti.
Yang juga cukup menjebak adalah soal-soalnya.
Selain ada pilihan ganda, soal-soal di IELTS juga ada yang berupa isian. Satu atau dua kata diharapkan harus mengisi titik-titik di dalam soal.
Jadi, selain harus ekstra perhatian karena aksen si pembicara, peserta ujian juga harus ekstra hati-hati dalam memilih kata pada soal isian.

2. Reading
Bagian Reading adalah bagian paling menyebalkan dari tes IELTS.
Pada bagian ini, pilihan jawaban yang diberikan dalam soal pilihan ganda jumlahnya selalu dua kali lebih banyak daripada soal. Sangat menjebak.
Selain itu, ada juga soal isian yang harus diisi dari kata-kata yang dipilih dari wacana yang sudah disajikan.
Sungguh sangat membingungkan.
Kalau bisa, saya tidak akan pernah mau lagi mengulangi tes bagian Reading ini.

3. Writing
Ada dua soal pada bagian Writing.
Yang pertama, peserta ujian diminta mendeskripsikan gambar, atau kurva, atau ilustrasi lainnya.
Yang kedua, peserta ujian diminta membuat sebuah karangan yang dikembangkan dari sebuah pertanyaan essay.
Menurut saya, secara umum, topik-topik yang diberikan pada soal essay di tes IELTS ini cenderung lebih mudah dan gak macem-macem, seperti pada TOEFL (IBT).

4. Speaking
Tes bagian Speaking dilaksanakan di depan seorang native speaker yang memang berfungsi sebagai penguji.
Karena dilakukan dihadapan seorang penguji, bagian tes yang hanya menghabiskan waktu 15 menit tersebut membuat peserta ujian antri untuk dites.
Antri bisa berjam-jam demi tes yang hanya 15 menit.
Dalam tes bagian Speaking ini, peserta ujian biasanya diminta untuk menjelaskan tentang diri mereka sendiri dan berbagai macam hal-hal umum yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Speaking, tentu saja, menjadi bagian tes favorit saya dalam tes IELTS ini.

Begitulah persamaan dan perbedaan antara TOEFL (IBT) dan IELTS.

Yang paling penting adalah belajar sebelum tes dan sering-sering berlatih menjawab berbagai macam soal Bahasa Inggris.
Semoga berhasil bagi orang-orang yang akan menjalani kedua tes ini!

9 Comments

  • KIm JI Byung 김지병

    wah, info yang bagus nih, soalnya saya sempat bingung mau ikut tes TOEFL atau Tes IELTS…. makasih banget ya infonya…

    • alienkeren

      Halo Gina. Terima kasih sudah mampir. Sayangnya saya tidak bisa membantu banyak soal TOEFL PBT karena saya tidak pernah mengambil tesnya. Menurut internet sih perbedaan TOEFL PBT dengan IBT adalah pada TOEFL PBT tidak ada tes speaking dan digantikan dengan tes mengenai structure dan grammar. Good luck!

      • wandaputrisacharissa

        haloo.. sekedar share setahu saya.. Kalau mau lanjut sekolah di luar, PBT sudah tidak berlaku di Indonesia.. kalau yang selama ini kita pergunakan itu ITP.. Biasanya ada di Universitas Negeri seperti di Surabaya (UNAIR, ITS, UNESA).. tapi ITP hanya bsa dipergunakan di Asia kalau tidak Asia tenggara.. untuk daerah eropa, minta IELTS, atau PBT (yang berlaku di Idonesia).. Viel glueck Alle.. 🙂

    • alienkeren

      Halo Wanda! Terima kasih sudah mampir dan kasih komen. Terima kasih juga atas informasinya. Beberapa minggu yang lalu saya datang ke Pameran Pendidikan Amerika Serikat dan universitas yang ada di pameran tersebut masih menerima PBT. Tapi memang PBT sudah sangat tidak populer dimana-mana.
      Kalau ITP itu bahasan lain lagi – cukup diikuti untuk latihan saja.

What is on your mind?