Teman Baik (Bagian 11)

Tulisan saya ini adalah sebuah kelanjutan dari tulisan saya di serial tulisan Teman Baik.
(Tomo, teman KP Pertamina, Flamboyan, Anie, geng KP ‘pertama’, Ravina, Nico, Ayesh, Sara, Samuel)

Kali ini Teman Baik saya adalah seorang wanita (haiyah!) yang sedang berbahagia karena setelah hampir 6 tahun (sumpah! LAMA BANGET BOK!) menimba ilmu di Universitas Padjadjaran Bandung, akhirnya sang wanita (haiyah!) ini WISUDA juga.
hahaha!

Nama Teman Baik saya ini adalah Diah Nur’aini.

Diah Nur'aini

Kami baru bertemu dua hari yang lalu dan saya baru tau bahwa saya adalah teman pertama Diah sewaktu kami sama-sama berada di kelas yang sama saat Masa Orientasi Siswa di SMP Negeri 5 Bandung.

Agak berlebihan sih kalau saya dibilang ‘teman pertama’, karena Diah sendiri berasal dari SD Merdeka yang setengah keseluruhan siswanya pindah ke SMP Negeri 5.
Jadi, sebenarnya Diah udah punya BANYAK banget teman yang dulu satu SD dengannya.
Jadi (lagi), saya adalah ‘teman pertama’ Diah yang bukan berasal dari SD Merdeka.

Kelas satu dan dua SMP kami cuma saling hai-hai-an aja, karena setelah MOS, kami tidak ditakdirkan untuk pernah sekelas.
Baru saat kelas 3 SMP, takdir memutuskan untuk menyatukan kami di sebuah kelas yang penuh dengan konflik dan drama: kelas 3B.
Sejak saat itulah kami mulai dekat.

Kedekatan kami kemudian semakin menjadi (haiyah!) saat takdir kembali menyatukan kami di dalam kelas 1-7 SMA Negeri 3 Bandung.
Yang lucunya, saat sudah SMA, kami sering melihat kebelakang dan mengenang, sambil tertawa-tawa, akan drama-drama yang terjadi di kelas 3B kami dulu.

Lalu, di kelas 1-7 inilah persahabatan kami tumbuh (haiyah!).
Dimulai dari obrolan mengenai kenangan soal kelas 3 SMP lalu, sampai kami jadi sering jalan-jalan bersama.

Awalnya anggota jalan-jalan ini ada saya, Diah, dan seorang teman lagi (Aulin). Kemudian anggota jalan-jalan ini bertambah tiga orang lagi (Anna, Ditta, dan Alin).
Ritual kami waktu itu adalah jalan-jalan di hari Sabtu.
Hari Sabtu kami pilih karena biasanya jadwal pulang sekolah kami lebih cepat daripada hari-hari biasanya.
Sepulang sekolah di hari Sabtu itu, kami biasanya pergi ke berbagai macam tempat, tapi ada beberapa tempat yang menjadi tempat favorit kami: Rumah Bagus (waktu itu sering bolak-balik buat beli sampul buku yang seragam untuk sekelas), Day’s Spot (sebuah distro yang kebanyakan menjual barang-barang untuk wanita. letaknya di Jalan Cumbuleuit. Saking seringnya kami kesana, kami sampai kenal dengan mbak penjaga distro), dan Cosmic Clothes (distro yang sekarang sohor banget namanya ini harusnya bangga karena kami adalah salah satu pelanggan pertamanya).

Tahun berganti dan waktu pun terus berjalan.
Pertemanan saya dan teman-teman lain mulai merenggang, tapi pertemanan saya dan Diah tetap stabil.
Sewaktu kami masih sama-sama duduk di bangku SMA, tidak terlalu banyak perubahan yang terasa, karena kami masih dapat melihat satu sama lain setiap hari.

Perubahan baru benar-benar terasa saat kami menginjak bangku perkuliahan.
Rumah Diah yang letaknya sangat dekat dengan kampus ITB membuat saya selalu menyempatkan diri untuk mengajak Diah pergi.
Diah, walaupun berkuliah di Unpad Jatinangor, juga selalu menyempatkan diri untuk bertemu denganku.
Begitu terus hingga kini.

Mungkin kami memang tidak selalu sempat untuk bertemu setiap bulan sekali, tapi kami selalu meluangkan waktu untuk menghabiskan waktu bersama satu dengan yang lain.

Ada beberapa hal yang membuat saya tahan berteman sama Diah:

1. Diah ini anaknya asik (haiyah!)
Beneran deh. Sejak sekelas di kelas 3 SMP, saya tau kalau Diah ini anaknya asik banget, bisa masuk kemana-mana.
Bisa temenan sama anak paling gaul, bisa juga temenan sama anak paling gak gaul.
Bisa cepet nyambung sama orang baru dan selalu membuka diri terhadap berbagai macam hal baru.

2. Diah itu teman yang wawasannya benar-benar luas
Emang udah takdir sih kayaknya si Diah masuk jurusan Jurnalistik.
Sejak berteman dekat di kelas 1 SMA, saya selalu merasa bahwa pengetahuan umum Diah sungguh-sungguh luas, belum lagi ingatannya yang sangat-sangat kuat.
Contohnya ya: Diah bisa tau tuh nama-nama pulau-pulau kecil dan letaknya ada di propinsi mana di Indonesia.
Dulu, Diah juga hapal nomer hp orang di dalam kepalanya. (walaupun kami berdua sudah sepakat bahwa kemampuan ini sia-sia dan cuma ngotor-ngotorin memori otak aja. hahaha)
Berteman sama Diah benar-benar penyegaran dari teman-temanku yang kebanyakan gak peduli dengan tren terbaru atau berita terkini.

3. Diah adalah pendengar yang baik dan sungguh sangat tidak pernah menilai sesuatu hanya dari sampulnya saja.
Ini beneran deh, saya kayaknya gak punya rahasia apa-apa sama Diah, walaupun mungkin ada jarak lama antara suatu kejadian dan saat-saat saya menceritakannya sama Diah.
Diah selalu mendengarkan dengan baik dan selalu terbuka atas cerita apa saja.
Berbeda dengan saya yang dibesarkan dalam keluarga yang sungguh sangat rasis dan judgmental, Diah selalu menertawakan saya saat saya udah mulai judgmental juga.

4. Diah TAU JALAN!
Diah itu pengguna alat transportasi umum sejati jadi dia tau jalan kemana-mana.
Sungguh berbeda dengan saya yang nyetir, tapi pengetahuan tentang jalan cukup minim.
Diah itu tau jalan-jalan di Bandung dan Jakarta, plus kota-kota lain yang sudah pernah dia jelajahi lainnya.
Balik lagi juga sih ke poin nomer 2: ingatannya juga kuat.

Ada satu ‘aww moment’ yang gak bakalan pernah saya lupakan terjadi antara saya dan Diah.
Waktu itu saya baru pulang jalan-jalan dan belum sempat ke Bandung untuk bertemu Diah. Jadi kami memutuskan untuk berbicara lewat YM.
Lalu kami berdua sadar bahwa sebentar lagi kami hanya akan bisa berbicara di dunia nyata.
Dan Diah bilang: “ah. LDR dong kita ya?”

Yes. Diah adalah salah satu teman yang sungguh akan sangat saya rindukan ketika nanti sudah tiba saatnya saya untuk pergi meninggalkan negara ini.

Semoga Diah sukses dalam menempuh hidup baru sebagai seorang Sarjana.
Semoga Diah cepat-cepat menentukan apa yang ingin dia lakukan dengan masa depannya.
Semoga bisa cepat-cepat membahagiakan si Ibu.
Semoga Diah cepat-cepat dapat pacar!
(kalau ada yang berminat, silakan hubungi saya aja langsung!)


Posted

in

by

Tags:

Comments

2 responses to “Teman Baik (Bagian 11)”

  1. dyah Avatar

    ah, mana ini belum ada yang menghubungi kamu untuk jadi kandidat pacar aku? :)))))))
    merci beacoup, mon amieeee! 😀

    1. alienkeren Avatar

      ahahahahahhaa! berarti muka kamu kurang laku nih. LOL

      de rien lohhh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *