Hormat-Menghormati (?)

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah pernyataan:
“ketika kamu akan memasuki suatu komunitas tertentu dan para pendahulu komunitas itu bilang: ‘disini tidak ada senioritas’, JANGAN PERCAYA!”

Kalau mau bicara soal harga-menghargai, saya bisa mulai mengambil contoh dari sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Saya tidak akan pernah lupa bagaimana sakitnya hati saya saat saya diacuhkan oleh mbak-mbak kasir saat saya akan membeli sesuatu.
Saya masih heran sampai sekarang.

Waktu itu, saya ingin membeli sebuah barang. Saya punya uang untuk membayar barang tersebut. Tapi entah mengapa, mbak-mbak kasir selalu mendahulukan orang-orang yang lebih tua daripada saya untuk membayar.
Padahal, saya dan orang-orang tua itu sama-sama punya uang dan mampu membayar barang yang kami inginkan.
Hal ini juga bukan hanya terjadi satu atau dua kali dan bukan juga terjadi di satu tempat khusus. Hal ini saya alami berulang-ulang kali dan di berbagai macam tempat.

Contoh lainnya saya setelah saya beranjak dewasa.
Saya pernah beberapa kali melemparkan sebuah pertanyaan kepada teman-teman Indonesia saya yang sudah merasakan hidup di luar Indonesia.
Pertanyaan yang saya ajukan:
“Ngerasa gak sih ada perbedaan yang sangat menonjol kalo ngobrol sama orang Indonesia yang lebih tua dan sama orang lain yang umurnya juga lebih tua tapi berasal dari negara lain?”
Jawaban teman-teman saya, tentu saja, “IYA! BEDA BANGET!”

Saya, dengan bantuan dari jawaban-jawaban teman-teman saya ini, menyimpulkan:

1. jika saya terlibat dalam satu pembicaraan dengan orang Indonesia yang lebih tua umurnya, apapun hubungan kami, saya harus terus-menerus menunjukkan rasa hormat saya terhadap orang itu. Tidak peduli jika orang itu lebih bodoh daripada saya, lebih kurang pengalamannya daripada saya, atau bahkan lebih tong kosong nyaring bunyinya daripada saya. Setidaksuka apapun saya dalam pembicaraan tersebut, orang Indonesia yang lebih tua ini selalu memposisikan dirinya lebih tinggi daripada saya dan menuntut saya untuk menyadari hal itu.

2. jika saya terlibat dalam satu pembicaraan dengan orang dari negara lain, tidak peduli seberapa tua pun orang itu, kami dapat terlibat dalam pembicaraan santai yang membuat kami jadi belajar dari satu sama lain. Saya tidak merasa terbebani untuk menghormati orang tersebut dan orang tersebut tidak pernah mengharapkan saya untuk menghormati dia. Kami saling menghargai satu sama lain dan kami selalu berada dalam tingkatan yang sama.

Saya masih heran hingga sekarang, mengapa orang yang lebih tua selalu harus lebih diagung-agungkan daripada orang yang lebih muda umurnya?
Jangan salah, saya sangat menghormati dan menghargai orang tua saya dan saudara-saudara mereka (om-om dan tante-tante saya, maksudnya).
Yang saya tidak mengerti ya masalah-masalah kecil seperti yang sudah saya contohkan diatas.

Kenapa saat akan membayar di kasir, anak kecil di-nomor-dua-kan?
Padahal si anak kecil ini punya uang yang cukup untuk membayar, tidak kalah dengan orang yang lebih tua umurnya.
Kenapa orang yang berumur lebih muda harus selalu menunjukkan rasa hormat pada orang yang berumur lebih tua?
Padahal orang yang yang lebih tua tersebut belum tentu menghormati orang yang lebih muda.

Jika masalah ini dicari akarnya, mungkin masa kerajaan Indonesia yang bisa disalahkan sebagai penyebabnya.
Pada masa-masa kerajaan tersebut, raja umumnya orang yang lebih tua. Jika raja dianggap belum ‘berumur’, selalu ada orang yang ‘di-tua-kan’ yang berfungsi sebagai sumber nasehat.
Kebiasaan ini terbawa hingga sekarang.

Inti dari tulisan saya ini sebenarnya hanya ingin mengajak bangsa Indonesia menjadi sedikit lebih kritis.
Apakah perlu kita selalu men-dewa-dewa-kan kakak kelas kita?
Apakah perlu kita selalu menghormati perkataan-perkataan orang-orang yang lebih tua daripada kita?

Orang yang lebih muda juga boleh punya pendapat sendiri dan tentu saja boleh tidak setuju dengan pendapat-pendapat orang yang lebih tua.
Belum tentu senior di himpunan jurusan itu lebih berpengalaman daripada kita.
Belum tentu orang-orang yang umurnya lebih tua itu punya ide yang lebih bagus dalam menghadapi pengalaman-pengalaman hidup.

Belum tentu orang-orang yang lebih muda tidak boleh menuntut penghormatan dari orang-orang yang lebih tua.

Orang yang umurnya lebih muda juga manusia yang derajatnya sama dengan orang-orang yang umurnya lebih tua.
Sebaiknya hormat-menghormati dan harga-menghargai menjadi tindakan yang sifatnya dua arah, bukan hanya satu arah, seperti yang terjadi selama ini.


Posted

in

by

Comments

6 responses to “Hormat-Menghormati (?)”

  1. ayesh Avatar
    ayesh

    setuju banget dah sama kalimat terakhirrr! mungkin al, orang tua ngerasa mereka uda makan asam garam kehidupan lebih banyakkk karna hidup lebih lamaaa! 😛

  2. alienkeren Avatar
    alienkeren

    I’m glad 🙂
    tapi asam-garam sih asam-garam. banyak buktinya kalo orang-orang yang lebih tua juga tong kosong nyaring bunyi-nya kan yaaaa…

  3. tom Avatar
    tom

    emang budaya leluhur yg berpengaruh itu. bukan di indonesia aja kan yg punya budaya “respect the elderly people”?

  4. alienkeren Avatar
    alienkeren

    ya emang bukan cuma orang Indonesia negara yang menghormati orang yang lebih tua.
    tapi cuma Indonesia negara yang orang lebih tua tidak dianjurkan untuk menghormati orang yang lebih muda.

  5. tom Avatar
    tom

    ya iya lah…orang di soal pelajaran ppkn aja teorinya begitu

    kepada yg lebih tua kita harus………………..menghormati
    kepada sesama kita harus……………………mengasihi (cmiiw on this one)
    kepada yg lebih muda kita harus…………….menyayangi

    mana ada orang tua menghormati yg lebih muda. gak lulus PPKN nya berarti waktu SD 😛

  6. Agung Nugroho Avatar

    Uraian yang sangat bagus tentang sikap hormat dan saling menghormati antara yang lebih muda dan lebih tua, semoga menjadi rujukan yang baik bagi yang lebih tua agar menjadi lebih bijak dalam bersikap kepada yang lebih muda: saling menghormati!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *