Hop On/Hop Off?

Untuk merayakan Jakarta yang lagi banjir-banjirnya, saya memutuskan untuk berbagi sedikit opini saya tentang salah satu fasilitas yang ada di kota ini.

Dua minggu yang lalu, untuk kedua kalinya, saya menaiki bis tur ‘keliling’ Jakarta alias Jakarta City Tour. Untuk kedua kalinya juga juga saya merasa kecewa.

Dari awal berniat untuk naik bis tur ini, si bis memang tampak kurang bonafid. Saya mencoba melakukan riset sedikit lewat internet soal bis tur ‘keliling’ Jakarta ini dan informasi yang bisa saya dapatkan di Internet sangat sedikit. Memang ada beberapa blog yang sudah mengulas pengalaman menaiki bis ini, review tentang bis ini juga sudah ada di Tripadvisor, tapi mana informasi resmi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ya? Saya hanya bisa menemukan berita ini dengan informasi yang sangat ketinggalan zaman.

Tidak adanya informasi resmi dari PemProv DKI Jakarta di internet ini menurut saya sangat mengherankan. Pasalnya, setahu saya, bis tur ini adalah salah satu program unggulan PemProv, terutama sewaktu Jokowi masih jadi gubernur dulu. Aneh ya, padahal situs resmi PemProv dan Enjoy Jakarta lumayan bagus. Sayang sekali tidak ada selipan tentang bis tur ini.

Menurut saya, pengalaman untuk naik bis tur ini serupa dengan berjudi. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya jadwal yang menjelaskan waktu bis lewat dan halte yang akan dilewati. Jadi, saya (dan orang-orang lain) harus menunggu di halte sambil bertanya-tanya akan kedatangan si bis yang tidak pasti.

Oke, soal tidak adanya jadwal bis yang akan lewat, saya masih mau memaklumi. I mean, it’s Indonesia, for crying out loud! Pesawat saja pakai jadwal segala macam bisa terlambat berjam-jam, bagaimana bis yang gratis?

Ada rambu ini, tapi tidak di semua halte, jadi harus benar-benar memerhatikan halte yang ada rambu ini

Perjudian ini disemarakkan dengan tidak jelasnya halte yang disinggahi oleh si bis ini. Informasi yang saya punya sebelum menaiki bis ini hanyalah “dari Monas, mutar ke Pasar Baru, sampai Bundaran HI”. Betapa abstraknya informasi ini. Bayangkan jika saya bukan orang Jakarta, saya rasa informasi ini akan sangat membingungkan. Sungguh tidak terbayang berapa banyak halte yang dilewati dalam penjelasan mengenai jalur yang abstrak tersebut. Lalu akan timbul pertanyaan baru: memangnya bisnya berhenti di semua halte?

Intinya, orang yang ingin menikmati fasilitas bis tur ini lagi-lagi harus bermain judi. Harus datang ke salah satu halte di wilayah yang kira-kira akan dilewati oleh si bis dan berdiri sambil menunggu harap-harap cemas akan kedatangan si bis.

Mungkin prinsip yang digunakan oleh PemProv DKI saat merencanakan bis tur ini sesuai dengan lagu ciptaan Melky Goeslaw – Siapa Suruh Datang Jakarta. Mungkin orang yang ingin menikmati fasilitas bis tur ini disuruh memaklumi berbagai macam hal, bahkan sebelum menaiki bis itu sendiri.

Setelah berjudi dengan waktu dan halte, bis yang saya tunggu-tunggu datang juga.

Perlu dicatat bahwa di dalam bis tur ini penumpang tidak diperbolehkan untuk berdiri. Jadi jumlah penumpang yang naik dibatasi sejumlah tempat duduk yang tersedia. Tugas membatasi jumlah penumpang ini dilimpahkan kepada seorang Abang Kondektur. Jadi, jika ingin menaiki bis ini, terutama di akhir minggu, harus siap-siap berebutan karena tidak ada sistem antrean saat menunggu di halte. Calon penumpang bis tur ini harus bersiap untuk sikut-sikutan karena hanya hukum rimba yang berlaku untuk bisa menaiki bis ini – siapa cepat dia dapat.

Positifnya, di dalam bis ini saya merasa nyaman. AC dipasang sekencang-kencangnya, jadi si bis dapat digunakan sebagai tempat pelarian jika Jakarta sedang panas-panasnya. Selain itu, si Abang Kondektur juga cukup sigap dalam memerhatikan gerak-gerik penumpang. Bila ada penumpang yang berdiri saat bis sedang berjalan, Abang Kondektur tidak akan ragu-ragu untuk menegur penumpang tersebut. Untuk pertama kalinya saya menaiki bis di Indonesia yang Abang Kondekturnya sangat memerhatikan keselamatan penumpangnya.

Tetapi kenyamanan saya di dalam bis ini tidak bertahan lama. Seperti yang sudah saya ceritakan di awal tulisan ini, saya sudah menaiki bis tur ini untuk kedua kalinya. Kali pertama, saya masih merasakan adanya celotehan dari seorang pemandu wisata yang menerangkan secuil tentang Jakarta di lima menit pertama perjalanan. Kali kedua, sama sekali tidak ada pemandu wisata.

Mungkin perlu saya jelaskan bahwa dalam dua kali pengalaman saya menaiki bis tur ini, saya memulai perjalanan dari halte di depan Museum Nasional. Nah, saat pertama kali saya menaiki bis tur ini, si pemandu wisata masih menerangkan bahwa patung seorang dewa Yunani yang terletak di jembatan yang menghubungkan Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Veteran, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Majapahit merupakan sumbangan dari negara Yunani. Sang pemandu wisata juga menjelaskan perihal dewa tersebut dan sedikit mitos-mitos tentangnya, tapi saya tidak terlalu ingat. Selain itu, sebelum berhenti di sebuah halte di Jalan Ir. H. Juanda, si pemandu wisata masih sempat berbagi informasi tentang salah satu SMA swasta tertua di Jakarta, yaitu SMAK Santa Maria. Setelah itu, pemandu wisata diam seribu bahasa dan hanya berkata-kata untuk mengumumkan halte yang akan disinggahi.

Di akhir pengalaman saya menaiki bis tur untuk yang pertama kalinya, saya mencoba protes pada Abang Kondektur akan terdiamnya pemandu wisata. Saya kemudian melihat bahwa si pemandu wisata malah sibuk berbincang dengan seorang bule cantik. Abang Kondektur hanya menjawab protes saya dengan menyuruh saya melayangkan surat complain langsung pada atasannya. Dibegitukan, saya jadi malas sendiri.

Pengalaman saya yang kedua kalinya dalam menaiki bis tur ini lebih aneh lagi. Sejak naik ke dalam bis, saya langsung mendengar serangkaian lagu-lagu Indonesia dari pengeras suara. Awalnya saya mengira bahwa si pemandu wisata sedang beristirahat sejenak sebelum akhirnya memulai lagi untuk menerangkan berbagai hal tentang Jakarta.

Setelah tiga lagu Indonesia yang sama sekali tidak saya kenali dimainkan, saya akhirnya menyimpulkan sendiri bahwa tidak ada seorang pemandu wisata pun yang akan menerangkan apa-apa tentang Jakarta. Saya kecewa sekaligus sedih. Begitu banyak hal yang bisa diceritakan dan dibanggakan pada para penumpang tentang Jakarta, namun tidak ada yang melakukannya. Berbagai bangunan yang dilewati oleh bis tur ini sangat bersejarah dan nilai pengetahuan umumnya sangat tinggi. Pemandu wisata harusnya bisa mengelaborasi pentingnya Mesjid Istiqlal, Lapangan Banteng, Monas, Bundaran HI, dan berbagai macam landmark lain yang kontribusinya sangat besar bagi perkembangan kota Jakarta. Simbol-simbol toleransi budaya juga harusnya bisa diceritakan saat bis melewati Katedral, Pecenongan, dan Pasar Baru.

Terus terang, saat berada di dalam bis tur tersebut, saya merasa gemas sekali. Pemandu wisata yang dulu-dulu sih ngobrol melulu, jadi aja Pak Ahok kesal dan memecat semua pemandu wisata. Saya sungguh sangat menyayangkan sudah tidak adanya pemandu wisata di bis tur ini.

Oh, dan satu hal lagi, lagu-lagu yang dipasang di dalam bis sungguh sangat tidak mencerminkan keindahan musik Jakarta, ataupun Indonesia. Lagu-lagu yang dipasang adalah lagu-lagu dari berbagai macam penyanyi atau band yang sangat komersil tapi kemampuan bermusiknya (menurut saya, sebagai orang awam) sangat biasa.

Setelah menaiki bis tur ini, kekesalan saya yang terbesar saya jatuhkan pada dua hal, yaitu rute yang aneh dan waktu tempuh yang terlalu lama.

Berdasarkan pengalaman saya menaiki bis tur ini, rute bis ini adalah sebagai berikut.

Saya naik bis dari depan Monumen Nasional, bis berbelok ke Jalan Ir. H. Juanda, berbelok lagi ke arah Lapangan Banteng, melewati Katedral dan Istiqlal, memutari Monas, berbelok ke Jalan Medan Merdeka Selatan, berputar balik di depan Balai Kota, melewati Jalan Thamrin, melewati Sarinah, memutari Bundaran HI, dan kembali lagi ke depan Museum Nasional. Kritik saya setidaknya ada dua:

  1. Bis sama sekali tidak melewati gerbang Pasar Baru yang sangat bersejarah. Bis malah berbelok dan membelakangi gerbang bersejarah ini. Mengapa?
  2. Apa esensi dari melakukan putar balik (u-turn) di depan Balai Kota? Apakah bis ini hanya ingin pamer letak kantor yang membiayai seluruh biaya operasionalnya? Aneh.

Berkat rute yang aneh ini, sampailah saya pada poin kekesalan saya yang kedua, yaitu waktu tempuh bis yang terlalu lama. Jarak yang diperlukan untuk mengelilingi rute aneh tersebut (kata Google Maps) adalah sekitar 10-11 km. Waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak ini harusnya paling lama 30 menit – itu pun sudah ditambah dengan macet dan lain-lain. Tapi, si bis tur ini bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam, bahkan lebih! Yang mengesalkan, waktu tempuh yang lama ini bukan disebabkan karena macet, tapi karena si bis ngetem. Bis tur ini berhenti terlalu lama di beberapa halte (sekitar 10-15 menit di beberapa halte seperti di halte Istiqlal, Pasar Baru, dan Plaza Indonesia). Hal ini membuat saya (bersama teman-teman dan keluarga saya) kesal dan kapok.

Sedih rasanya fasilitas sebaik dan sebagus ini tidak direncanakan dan dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Ya, saya tahu PemProv DKI mungkin belum berpengalaman dalam mengelola bis tur seperti ini. Ditambah lagi bis tur ini adalah fasilitas yang disediakan secara gratis, jadi orang-orang sudah harus mensyukurinya.

Apa iya? Apa mentang-mentang gratisan masyarakat (dan turis) tidak bisa mengharapkan pelayanan yang maksimal?

Katanya gaji pegawai PemProv DKI kan besar, ayo dong maksimalkan fasilitas yang ada!

Saya sih cukup kapok untuk naik bis tur ini. Walaupun mungkin saya masih akan menaiki bis tur ini lagi di masa depan, saat saudara-saudara atau teman-teman saya dari luar daerah datang ke Jakarta. Di masa depan, saat saya harus menaiki bis tur ini untuk ketiga kalinya, saya harap kualitasnya sudah menjadi lebih baik. Saya berdoa supaya kualitas bis ini dapat meningkat. Semoga ya!

This slideshow requires JavaScript.

 


Posted

in

by

Comments

One response to “Hop On/Hop Off?”

  1. […] temukan di Jakarta, terutama di kawasan Jakarta Pusat dan sekitarnya. Berbeda dengan tulisan saya sebelumnya, beberapa fasilitas yang akan saya bahas pada tulisan ini adalah fasilitas-fasilitas yang, menurut […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *