Persoalan Koneksi

Saya baru saja pulang kampung.

Saat saya bilang “kampung”, yang saya maksud memang benar-benar kampung. Tepatnya kampung papa dan mama saya, karena kalau saya sendiri tidak pernah merasa punya kampung. Gara-garanya tentu saja asal-usul saya yang kurang begitu jelas. Saya dilahirkan di Jakarta. Umur setahun saya dibawa orang tua saya ke sebuah desa di Sulawesi Tenggara. Setelah lulus SD, saya dikirimkan ke Bandung, hingga lulus kuliah. Setelah lulus kuliah saya hidup di Jakarta. Jadi, istilah “kampung” bagi saya kurang jelas maknanya.

Terlepas dari lokasi saya dibesarkan, sejak kecil saya (dan adik saya) sudah mengasosiasikan istilah “kampung” dengan desa-desa tempat papa dan mama saya dilahirkan dan dibesarkan. Saya (dan adik saya) yang hidupnya cenderung nomaden ini menganggap kampung papa dan mama sebagai kampung milik sendiri, karena memang tidak dilahirkan ataupun dibesarkan disana. Lokasi kampung bagi saya (dan adik saya) merupakan sebuah lokasi yang sudah diadopsi sejak kecil, semata-mata karena dicekoki oleh papa dan mama. Sehingga “kampung” bagi saya (dan adik saya) menjadi sesuatu yang berkaitan dengan kekentalan darah, cara kami dibesarkan, dan gerak-gerik kami; bukan hanya sekedar urusan geografi.

Satu hal lagi, yang saya maksud dengan “kampung” definisinya benar-benar sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu desa atau dusun yang merupakan satuan administrasi terkecil yang menempati wilayah tertentu. Lokasi kampung ini terletak di pelosok Sumatra Utara, kira-kira 10 jam perjalanan darat (kampung mama) dan 13-14 jam (kampung papa) dari Medan.

Oleh karena saya (dan adik saya) tidak memiliki kampung yang jelas dan pasti, maka papa dan mama secara berkala menanamkan doktrin bahwa kami harus menganggap kampung mereka sebagai kampung kami juga. Caranya adalah dengan mewajibkan saya (dan adik saya) untuk mengikuti mereka mengunjungi si kampung. Saya (dan adik saya) jarang komplain karena kewajiban untuk pulang kampung ini masih dirasa cukup masuk akal. Contohnya, sebelum saya pulang kampung minggu lalu, terakhir kali saya pulang kampung adalah pada 2013. Diwajibkan untuk pulang kampung sekali dalam tiga tahun bagi saya (dan adik saya) tidaklah memberatkan.

Ada yang menarik saat saya pulang kampung kemarin. Entah mengapa ada sesuatu yang rasanya berbeda. Bukan kampung yang berbeda, bukan juga orang-orangnya. Saya merasa, saya, sikap, dan pemikiran saya lah yang berbeda saat pulang kampung kemarin. Entah mengapa, selama perjalanan pulang kampung kemarin, saya merasakan sedih yang (menurut saya sendiri) kurang beralasan.

Selama perjalanan pulang kampung kemarin, saya merasa betapa disconnected-nya saya. Saya merasa ada yang tidak menyambung antara saya dengan kampung, antara hidup saya di Jakarta dan kehidupan di kampung. Bukan, saya bukan merasa hidup saya di Jakarta lebih baik atau lebih enak. Bukan, saya juga bukan merasa hidup di kampung itu lebih buruk atau lebih tidak enak. ‘Cuma’ tidak nyambung saja.

Saya jadi ingat sebuah topik pembicaraan pada suatu malam saat saya masih tinggal di London. Waktu itu saya sedang mengobrol dengan seorang teman, orang Indonesia juga, yang periode tinggalnya di luar negeri sudah lebih lama daripada saya. Kami membicarakan cara kami menyikapi kehidupan kami di luar negeri dan kehidupan kami di dalam negeri. Saat itu, teman saya menyatakan bahwa dia seperti memiliki dua kehidupan. Satu kehidupannya di luar negeri, yaitu kehidupan yang sama sekali tidak memedulikan hal-hal yang terjadi di dalam negeri (disclaimer: tentu saja ini adalah sebuah ungkapan ekstrem. Nyatanya rakyat Indonesia di luar negeri masih sangat peduli dengan hal-hal yang terjadi di dalam negeri). Satu lagi kehidupannya di dalam negeri, yaitu kehidupan yang sama sekali tidak memedulikan hal-hal yang terjadi di luar negeri. Saat pertama kali mendengar pengakuan teman saya itu, saya tertegun cukup lama. Soalnya, saya merasa saat saya hidup di London, saya mencoba sekeras mungkin untuk tetap mengetahui berbagai macam berita, kejadian, dan peristiwa yang terjadi di tanah air. Saya sungguh mencoba untuk tetap terkoneksi dengan tanah air. Namun, sekeras apapun saya mencoba, tetap saja ada yang terlewat. Saya jadi berpikir bahwa mungkin memang benar pendapat teman saya itu. Tidak ada manusia yang sanggup 100% hidup dalam dua negara; pasti membutuhkan stamina yang sungguh besar dan waktu lebih dari 24 jam sehari untuk dapat benar-benar hidup di satu negara dan tetap terkoneksi dengan sebuah negara lain.

Nah, yang membuat saya sedih saat pulang kampung kemarin adalah kenyataan bahwa kehidupan saya di Jakarta sangat tidak nyambung dengan kehidupan di kampung. Seakan-akan, Jakarta adalah negara lain, bukan Indonesia, yang menelan seluruh waktu dan tenaga saya, sehingga saya tidak tahu apa-apa tentang kampung saya sendiri.

Sepanjang jalan selama di kampung, mama dan papa menunjukkan berbagai rumah yang pernah dan/atau masih ditempati oleh berbagai saudara dekat, saudara jauh, bahkan kenalan-kenalan yang saya sendiri tidak terlalu kenal. Ketika papa dan mama menunjuk-nunjuk berbagai macam rumah tersebut, saya bertanya-tanya dalam hati, “apakah saya peduli?”

Supir yang mengendarai mobil sewaan yang kami pakai selama di kampung pun ikut menunjukkan sebuah rumah pada kami. Sambil menunjuk sebuah rumah itu, dia bercerita bahwa rumah itu adalah tempat tinggal seorang anak yang dulunya berkuliah di Medan dan saat ini sudah ditahan polisi karena membunuh dosennya sendiri. Saya tertegun. Berbagai pertanyaan muncul di kepala saya. Salah satunya adalah “sebesar apa rupanya masalah si anak hingga dia harus membunuh si dosen?” Ketika saya sedang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala saya sendiri, papa malah mendiskusikan perihal kasus itu dengan sang supir. Papa tahu betul dengan kasus mahasiswa yang membunuh dosennya itu (salah satu poin diskusi: “dosennya Lubis, kan?”). Lalu kemudian saya berpikir, kemana saja saya selama ini sampai saya tidak tahu ada kasus semengganggu ini?

Ketidaknyambungan saya dengan kampung juga terasa saat saya mengobrol dengan orang-orang kampung. Anak-anak kecil yang ada di kampung tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia. Adik saya, yang memang penggemar dan jagoan menghadapi anak kecil, bahkan kesulitan berkomunikasi dengan anak-anak di kampung. Seperti lost in translation. Puncaknya adalah ketika kami melewati sebuah SD di kampung dan di salah satu dinding di tengah SD tersebut ada tulisan, “Kawasan Wajib Berbahasa Indonesia”. Pada saat itulah saya merasa kehidupan saya di Jakarta sungguh sangat tidak terkoneksi dengan kehidupan di kampung. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk membaca tulisan “Kawasan Wajib Berbahasa Indonesia” pada dinding SD di Jakarta.

Kemudian ada pula berbagai kebiasaan orang kampung yang bikin saya hampir mati berdiri. Salah satu contoh yang paling sering dilakukan adalah merokok. Dengan santainya, para lelaki di kampung itu merokok di depan siapa saja, bahkan di depan anak-anak balita mereka. Papa bahkan menolak untuk ikut mengunjungi suatu tempat karena tahu bahwa yang dikunjungi akan dengan seenaknya merokok di depan tamunya, yaitu kami-kami ini.

Contoh lainnya adalah buang sampah sembarangan. Di kampung, saya dan keluarga tinggal di rumah yang dulunya ditempati oleh ompung (nenek dan kakek) saya. Rumahnya cukup besar dan halamannya luas. Pada suatu ketika, saya bersender di salah satu pagar pendek samping rumah yang membatasi teras dengan halaman, sambil memandang ke arah halaman. Saya terkejut betapa halaman itu penuh dengan sampah, umumnya sampah plastik. Sambil duduk di teras, saya memperhatikan orang-orang kampung yang berlalu-lalang di rumah kampung tersebut. Tiba-tiba seseorang mengelap keringatnya dengan selembar tisu, setelah itu tisu diremasnya dan dibuang begitu saja ke halaman. Jantung saya terasa seperti berhenti berdetak. Saya menahan nafas. Apa yang baru saja saya lihat? Tidak berapa lama, ada orang lain yang datang. Kali ini orang tersebut mengeluarkan segepok tisu dari plastiknya dan menata tisu tersebut di dalam gelas. Plastik yang tadi membungkus tisu kemudian dengan santainya dibuang lagi ke halaman. Mata saya membelalak. Benarkah hal itu baru saja terjadi di depan muka saya?

Perasaan saya soal kebebasan merokok dan membuang sampah di kampung inilah yang membuat saya merasa sedih dan tidak terkoneksi dengan kehidupan kampung. Saya lalu kemudian beripikir, sepertinya salah satu diantara saya dan orang-orang kampung ini ada yang hidup di dunia fantasi.

Apakah saya yang hidup di dunia fantasi? Saya sudah begitu nyamannya dengan kehidupan di Jakarta, yang semua orang pasti berbahasa Indonesia, di tempat-tempat umum sudah disediakan tempat terpisah untuk yang merokok dan tidak merokok, dan tempat sampah cenderung mudah untuk di dapatkan. Apakah saya sudah dimanjakan dengan kehidupan berfasilitas lengkap di Jakarta sehingga saya berasumsi kehidupan di kampung pun akan serupa, walaupun mungkin belum sama? Apakah fantasi ini yang membuat saya tidak terkoneksi?

Ataukah orang-orang kampung yang hidup di dunia fantasi? Berpikir bahwa buang sampah sembarangan sampai mati pun tidak akan membawa dampak apa-apa bagi lingkungan dan kehidupan mereka? Berpikir bahwa umur hidup anak mereka yang mungkin hanya sampai 60 tahun tidak akan ada hubungannya dengan paparan asap rokok yang terus-menerus, sejak mereka bayi? Ataukah persepsi orang kampung yang tidak mau maju itu timbul karena mereka terus menggunakan bahasa daerah, susah mau belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar, apalagi Bahasa Inggris? Apakah hal-hal seperti ini yang membuat kehidupan kampung menjadi tidak terkoneksi dengan kehidupan di Jakarta?

Seluruh tulisan saya ini, dari atas sampai bawah, mengesankan bahwa kepulangan saya ke kampung minggu lalu merupakan kali pertama saya mengunjungi sebuah desa di Indonesia. Padahal sebenarnya tidak. Pengalaman saya mengunjungi desa-desa di berbagai pulau di Indonesia ini dapat dibilang cukup banyak. Seperti yang saya bilang dari awal, rasanya kepulangan saya ke kampung kali ini ada yang berbeda. Saya, cara berpikir saya, dan sikap saya sedikit berbeda – mungkin cenderung lebih sensitif dan pesimistis daripada biasanya. Saya sampai bingung harus mengatasinya dengan cara apa. Saat perjalanan saya terakhir di kampung, sebelum ke bandara untuk terbang ke Jakarta, saya hanya dapat menatap pemandangan dibalik kaca jendela mobil sambil berpikir.

Mengapa saya betul-betul tidak merasakan koneksi apa-apa dalam perjalanan pulang kampung minggu lalu ini? Apa yang membuat saya merasa benar-benar disconnected dengan kehidupan di kampung? Lalu apa solusinya? Apa yang bisa menyebabkan saya merakan konektivitas yang berarti dengan kampung? Apakah saya harus tinggal di kampung dalam jangka waktu yang lama? Apakah saya mampu?

Ataukah sebenarnya ketidaknyambungan yang saya rasakan ini pantasnya dihiraukan saja? Karena memang awal pemikiran ini tidak berlandaskan argumen yang jelas? Jadi mungkinkah rasa tidak nyambung ini memang normal? Wajar? Karena memang selalu dirasakan oleh semua orang Jakarta saat pulang kampung ke tempat mereka berasal?


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *